Senin, 22 September 2008

effect of global warming


Global warming is the term used to describe a gradual increase in the average temperature of the Earth's atmosphere and its oceans, a change that is believed to be permanently changing the Earth’s climate forever.

While many view the effects of global warming to be more substantial and more rapidly occurring than others do, the scientific consensus on climatic changes related to global warming is that the average temperature of the Earth has risen between 0.4 and 0.8 °C over the past 100 years. The increased volumes of carbon dioxide and other greenhouse gases released by the burning of fossil fuels, land clearing, agriculture, and other human activities, are believed to be the primary sources of the global warming that has occurred over the past 50 years.

Scientists from the Intergovernmental Panel on Climate carrying out global warming research have recently predicted that average global temperatures could increase between 1.4 and 5.8 °C by the year 2100. Changes resulting from global warming may include rising sea levels due to the melting of the polar ice caps, as well as an increase in occurrence and severity of storms and other severe weather events.

Bantuan Langsung Tunai (BLT) di Indonesia

Bantuan yang diberikan oleh pemerintah sebagai kompensasi dari kenaikan BBM atau yang kita kenal dengan BLT, seperti kita ketahui banyak menimbulkan pro dan kontra.

Mulai dari adanya penyelewengan kartu kompensasi BLT, klasifikasi warga penerima BLT, waktu pembagian BLT, distribusi dana BLT dari Kantor Pos Pusat ke Kantor Pos Daerah yang macet dan lain sebagainya, ini semua merupakan indikasi BLT tidak berjalan optimal.

Back to basic, sebenarnya syarat-syarat warga penerima BLT itu kaya gimana?, sampai-sampai ada keluarga miskin “gakin” yang protes karena tidak menerima BLT.

So, ni jawabannya :

1. Luas lantai bangunan tempat tinggal kurang dari 8 meter persegi untuk masing-masing anggota keluarga.

2. Jenis lantai tempat tinggal bangunan, terbuat dari tanah, bambu, kayu berkualitas rendah.

3. Jenis dinding bangunan tempat tinggal terbuat dari ambu, rumbia, kayu berkualitas rendah.

4. Fasilitas jamban tidak ada, atau ada tetapi dimiliki secara bersama-sama dengan keluarga lain.

5. Sumber air untuk minum atau memasak berasal dari sumur atau mata air tak terlindung, air sungai, danau atau air hujan.

6. Sumber penerangan dirumah bukan listrik.

7. Bahan bakar yang digunakan memasak berasal dari kayu bakar, arang, atau minyak tanah.

8. Dalam seminggu tidak pernah mengonsumsi daging, susu atau hanya sekali dalam seminggu.

9. Dalam setahun paling tidak hanya mampu membeli pakaian baru satu stel.

10. Tidak mampu membayar anggota keluarga berobat ke puskesmas atau poliklinik.

11. Pekerjaan utama kepala keluarga adalah petani dengan luas lahan setengah hektar, buruh tani, tukang batu, tukang becak, pemulung, atau pekerja informal lainnya dengan pendapatan maksimal Rp.600.000,- per bulan.

12.Pendidikan tertinggi kepala keluarga tidak lebih dari SD.

13. Tidak memiliki harta senilai Rp.500.000,- seperti tabungan, perhiasan emas, TV berwarna, ternak, sepeda motor (kredit / non-kredit), tanah, atau barang modal lainnya.

14. Makan dalam sehari hanya satu kali atau dua kali.

Tapi ya tetep aja syarat ada, penyelewengan juga ada. Tapi sebenarnya BLT ini seimbang gak dengan dampak kenaikan BBM?. Kalau dipikir ulang, Rp.100.000,- untuk satu bulan memangnya cukup untuk biaya hidup??.

Bukannya kenapa-napa, tapi menurut wit Rp.100.000,- gak bakalan cukup untuk biaya hidup satu bulan. Susah sih ngomongnya, mungkin BLT bukan solusi tepat dari dampak kenaikan BBM untuk gakin. Justru ini membuat mereka jadi “maaf” pengemis yang selalu menunggu uluran dana BLT dari Pemerintah. Dani ini memicu pelumpuhan potensi SDM dalam masyarakat dan membuat masyarakat malas bekerja. Jadi bukannya berusaha keluar dari jerat kemiskinan, tapi ini membuat masyarakat lebih terperangkap dalam jerat kemiskinan.

Cari solusi lain juga susah, misalnya dengan diberikannya kesempatan kerja seluas-luasnya kepada masyarakat, atau dengan membudidayakan KUR “Kredit Usaha Rakyat” yang sedang marak belakangan ini. Dua solusi tadi juga mungkin bukan solusi yang tepat untuk kompensasi BBM, karena tidak akan mampu menyerap semua gakin. Ya seperti kita tahu, SDM negeri ini lebih banyak yang “low quality” ketimbang “high quality”, pendidikan masyarakat pun masih rendah, sehingga untuk menjalankan KUR atau bekerja bukan menjadi hal yang mudah.

Jadi apa yang gampang ya???

Trus sektor mana yang harus dibenahi terlebih dahulu oleh negeri ini, supaya semua warga Indonesia dapat terbebas dari jerat kemiskinan???

Rabu, 17 September 2008

Batik Indonesia To Batik Cina

Indonesia???

Kasihan banget deh negara ini.Waktu itu ada masalah dengan dipatenkannya batik di Malaysia. Eh sekarang muncul masalah lain. Indonesia yang sekarang sedang membudayakan batik diserang batik buatan Cina. Apalagi harga batik Cina itu lebih murah daripada batik karya anak negeri sendiri.

Nah, dampak dari batik Cina itu pun sekarang mulai terlihat. Batik – batik Cina yang memiliki motif yang tidak kalah menarik dengan batik Indonesia itu laris manis di pasaran Indonesia. Para konsumen lebih tertarik dengan batik buatan Cina tersebut. Di samping motifnya yang tidak kalah menarik, harga yang ditawarkan juga miring.

Di sisi lain, produsen batik lokal mulai resah dengan batik Cina tersebut. Gimana ga resah.. secara pasti omset penjualan batik Indonesia jatuh seiring datangnya batik-batik Cina tadi.

Padahal saat ini batik mulai digemari oleh masyarakat Indonesia. Dari orang kecil sampai pejabat negara sekarang mulai gemar menggunakan batik. Sungguh ironis bukan? Di saat batik Indonesia mulai berkembang kembali malah ada ancaman kembali dari negeri luar. Yang membuat lebih ironis lagi, masyarakat lebih menyukai produk buatan luar negeri itu.

Tapi belum lama ini diduga bahwa batik Cina yang harganya miring itu adalah ilegal. Diperkirakan batik – batik itu masuk Indonesia tanpa melalui kepabeaan sehingga terhindar dari kewajiban membayar pajak. Itulah yang menyebabkan harga batik – batik Cina lebih miring. Dan hal itu sekarang sedang diselidiki lebih lanjut oleh Departemen Perdagangan.

Semoga permasalahan itu cepat terselesaikan. Supaya nanti batik Indonesia dapat berkembang lagi.

Dan kita sebagai warga Indonesia sebaiknya juga ikut memerangi hal tersebut. Mari kita belajar untuk dapat membedakan mana batik produk dalam negeri dan produk luar negeri sehingga kita tidak salah membeli dengan produk luar negeri saat membeli. Dan pastinya....

CINTAI PRODUK DALAM NEGERI YA!!!

Petir-petir pencabut nyawa

Walau sudah zaman teknologi tinggi, masih saja ada orang tewas hanya gara-gara tersambar petir. Fenomena alam ini rupanya tak pilih korban. Tak hanya anak desa, seorang pejabat di Batam pun pernah roboh tersambar. Awas, di musim hujan ini 'mereka' tengah gentayangan mengincar korban.

Kedengarannya memang ironis. Walau sebentar lagi umat manusia akan memasuki era millennium ketiga yang amat sarat dengan teknologi dan kebudayaan tinggi, masih saja ada tragedi yang mengingatkan kita pada zaman para dewa. Dahulu kala, menurut legenda Yunani, konon Bumi ini dikuasai sejumlah dewa, di antaranya adalah Zeus, Dewa Petir. Ia bisa menghukum siapa saja dengan petir yang bisa dilecut dari tangannya. Tiada ampun bagi korbannya.

Begitulah legenda. Namun lepas dari semua itu, kasus orang tersambar petir ternyata masih terjadi pada masa yang telah begitu moderen ini. Terlebih naif sendiri, setelah lebih dari empat abad Benjamin Franklin menaklukkan petir dengan layang-layang yang digantungi kunci itu. Dalam hal ini, para pembaca budiman mungkin masih ingat dengan musibah yang dialami seorang pejabat di Batam beberapa tahun lalu ketika sedang mengayunkan stick golf-nya. Tanpa dinyana ia langsung roboh setelah sebuah petir menyambarnya.

Selain itu, tentunya masih segar dalam ingatan kita betapa menyedihkan nasib tiga dari delapan anak dari Kampung Parigi, Kecamatan Pondok Aren, Tangerang, Jawa Barat, yang pada suatu sore (9/10) tengah bermain di sebuah persawahan. Mereka tewas seketika dengan tubuh hangus, juga akibat sambaran petir. Sore itu, seperti biasa mereka berhamburan meneduh ke sebuah gubuk yang ada di tengah persawahan begitu hujan tiba-tiba turun. Mereka pun tak pernah menaruh syak wasangka ketika petir mulai menyambar-nyambar, hingga suatu ketika sebuah diantaranya 'terkirim' tepat mengenai gubuk tempat mereka meneduh. Rohmin, Uslani, dan Solihin langsung terjungkal tewas dengan tubuh hangus terbakar. (Kompas, 12/10)

Di rumah sakit Ashobirin, selagi masih dirawat akibat shock, Usriandi kakak Uslani yang sama-sama ikut berteduh di gubuk nahas itu, menceritakan kegetiran yang terjadi. "Ketika itu hujan memang deras. Tiba-tiba saja petir menyambar dan saya segera tak sadarkan diri."

Umumnya petir-petir pencabut nyawa ini memang mengincar korban yang tengah 'bercanda' di wilayah datar yang terbuka. Di negara yang sudah terbilang maju sekalipun, seperti di Inggris, kasus petir makan korban juga masih terjadi. Salah satu kasus terjadi pada 14 September beberapa tahun lalu. Ketika itu seorang pria dewasa yang tengah melintas Taman Finsbury, London, tiba-tiba terpental ketika sebuah petir menyambarnya. Seperti juga korban lainnya, ia tewas seketika dengan tubuh terbakar.

Terdorong rasa ingin tahu yang mendalam, seorang fisikawan lalu melakukan penelitian terhadap tubuh korban. Menurut pengamatannya, pola lintasan arus listrik yang begitu tinggi dari sang petir nampak mengikuti jalur pembuluh darah vena. "Lintasannya mulai dari leher atas bahu sebelah kanan lalu melintas dada hingga rongga perut depan bagian bawah. Pola yang terjadi memang tak selalu demikian, namun nampaknya listrik petir mencari bagian tubuh yang memiliki resistensi rendah," ujarnya.

1.000.000 volt

Menurut batasan fisika, petir adalah lompatan bunga api raksasa antara dua massa dengan medan listrik berbeda. Prinsip dasarnya kira-kira sama dengan lompatan api pada busi. Di alam sekitar kita, petir biasa terjadi pada awan yang tengah membesar menuju awan badai (Cumulonimbus). Sedemikian raksasanya sampai-sampai ketika petir itu melesat, tubuh awan akan terang dibuatnya. Dan, sebagai akibat udara yang terbelah, sambarannya yang rata-rata memiliki kecepatan 150.000 km/detik itu juga akan menimbulkan bunyi yang menggelegar bunyi yang kemudian biasa kita sebut: geluduk, guntur, atau halilintar. Dalam musim penghujan seperti saat inilah awan-awan jenis ini banyak terbentuk.

Di lain kesempatan, ketika akumulasi muatan listrik dalam awan tersebut telah membesar dan stabil, lompatan listrik (eletric discharge) yang terjadi pun akan merambah massa bermedan listrik lainnya, dalam hal ini adalah Bumi. Penghubung yang 'digemari', merujuk Hukum Faraday, tak lain adalah bangunan, pohon, atau tiang-tiang metal berujung lancip.

Memang belum pernah ada ilmuwan yang pernah menekuni langsung bagaimana terjadinya fenomena alam ini. Namun, mereka menduga hingga lompatan bunga api listriknya sendiri terjadi, ada beberapa tahapan yang biasanya dilalui. Pertama adalah pemampatan muatan listrik pada awan bersangkutan. Umumnya, akan menumpuk di bagian paling atas awan adalah listrik muatan negatif; di bagian tengah adalah listrik bermuatan positif; sementara di bagian dasar adalah muatan negatif yang berbaur dengan muatan positif. Pada bagian bawah inilah petir biasa berlontaran.

Besar medan listrik minimal yang memungkinkan terpicunya petir ini adalah sekitar 1.000.000 volt per meter. Bayangkan betapa mengerikannya jika lompatan bunga api ini mengenai tubuh makhluk hidup!

Akibat kondisi tertentu, Bumi yang cenderung menjadi peredam listrik statis, bisa pula ikut berinteraksi. Hal ini dimungkinkan jika pada suatu luasan tertentu terjadi pengkonsentrasian listrik bermuatan positif. Apakah itu di bawah bangunan atau pohon. Ketika beda muatan antara dasar awan dengan ujung bangunan/pohon sudah mencapai batas tertentu, akan menjadi suatu kejadian lumrah jika kemudian terjadi perpindahan listrik. Maka secara fisik kita akan melihatnya sebagai petir menyambar bangunan atau pohon. Muatan yang begitu besar selanjutnya akan segera menyebar ke seluruh bagian bangunan/pohon, untuk kemudian menjalar ke tanah dan ternetralisasi pada kedalaman yang mengandung air tanah.

Kondisi seperti itu sudah pasti amat berbahaya bagi orang-orang yang ada di sekitarnya. Jika sambarannya tak terlampau kuat, korbannya paling hanya mengalami cidera dan/atau shock. Namun jika serangannya kuat, seperti dialami tiga orang anak dari Kampung Parigi itu, korbannya akan tewas seketika karena selain terbakar ia akan menjadi 'penghantar' listrik yang besarnya mencapai ribuan volt.

Kemajuan teknologi sebenarnya telah memungkinkan cara-cara pengendalian arus listrik yang begitu besar dari langit itu. Yakni, dengan penangkal petir dimana arus listrik yang begitu besar ditangkap sebuah atau sejumlah pucuk tembaga runcing lalu dialirkan lewat 'jalan tol' berupa kawat tembaga yang terpasang di sisi bangunan dan langsung dibawa menuju air tanah.

Menurut penelitian, daerah serbuan petir sendiri tak selamanya merupakan daerah yang dinaungi awan-awan besar. Sejumlah kasus menunjukkan bahwa suatu daerah pernah mendapat sambaran petir hebat meski langit di atasnya bersih dari awan. Contoh paling ekstrim yang pernah dicatat terjadi di Hereford, Inggris. Suatu ketika sebuah petir kuat menyerbu sebuah gedung setelah petir ini menempuh perjalanan sekitar lima mil dari 'pusatnya'. Dari kejauhan sejumlah saksi melihatnya sebagai pemandangan yang begitu indah sekaligus mengerikan. (Handbook of Unusual Natural Phenomena, 1986).

Itu sebabnya di musim hujan kita lebih baik tak usah bermain-main di wilayah terbuka atau bernaung di bawah pohon pada saat hujan. Ini semata-mata untuk menghindar dari kemungkinan yang tak diinginkan. Sebab, kita tak pernah bisa menduga apakah tanah yang sedang kita pijak telah berpotensi menjadi penarik petir atau tidak.

Dikutip dari : www.angkasa-online.com

Zakat membawa bencana



Membagikan zakat memang wajib dan diganjar pahala. Namun, jika dilakukan serampangan, malah menuai bencana bahkan mendatangkan dosa. Pembagian zakat oleh pengusaha dermawan asal Pasuruan, Haji Syaikhon, 55, kemarin (15/9) bisa menjadi pelajaran.

Maksud hati ingin membantu fakir miskin dengan zakat Rp 30.000, tapi malah berujung tragedi tewasnya 21 orang, satu kritis, dan 12 orang terluka. Atas keteledoran itu, kini Syaikhon, istri, dan tiga anaknya beserta belasan panitia dibawa ke Mapolres Kota Pasuruan. Mereka diamankan dari amarah warga.

Kejadian yang memilukan umat Islam yang sedang menjalani ibadah puasa itu berawal dari keputusan Syaikhon untuk kembali menerapkan pola pembagian zakat masal. Pengusaha kulit dan peternak sarang burung walet tersebut mengundang warga ke rumahnya di mulut Gang Pepaya Jalan Wahidin Selatan, Kelurahan Purutrejo, Kecamatan Purworejo, Kota Pasuruan, untuk menerima uang tunai Rp 30 ribu per orang.

Undangan bagi-bagi duit di tengah ekonomi sulit seperti sekarang itu kontan menarik ribuan orang untuk datang. Apalagi, jumlah yang dibagikan tahun ini lebih besar daripada tahun lalu yang hanya Rp 25 ribu. Umumnya warga mendengar adanya pembagian uang Syaikhon itu dari mulut ke mulut. Sebagian menguping siaran Radio FM Ramapati Pasuruan. ''Sedekah itu juga diumumkan di radio,'' ungkap salah seorang warga.

Mereka yang berbondong-bondong ke rumah Syaikhon bukan hanya tetangga sekitar, tapi juga dari daerah pedesaan wilayah Kabupaten Pasuruan yang berjarak sekitar 20 kilometer. Bahkan, ada beberapa yang datang dari luar kota seperti Jember dan Kediri. Ingin mendapat lokasi terdepan, mereka nyanggong (menunggu) pembagian zakat di depan rumah Syaikhon sejak usai sahur.

Melihat warga yang datang membeludak, panitia yang semua berasal dari keluarga Syaikhon memutuskan memindah lokasi pembagian zakat dari rumahnya ke musala Al Raudatul Jannah yang berjarak sekitar 10 meter. Mulut Gang Pepaya sampai samping musala ditutup gedek

Di samping musala itu kemudian diberi celah untuk pintu masuk. Semua calon penerima zakat harus melalui pintu masuk tersebut, kemudian diberi tanda tinta merah di tangannya. Selanjutnya, mereka mengantre di depan musala yang berpagar besi. Di depan musala ada tanah lapang 8 x 4 meter. Di tempat itu panitia menyediakan 13 tenda kecil.

Jumlah warga yang datang ke rumah Syaikhon diperkirakan mencapai belasan ribu orang. Angka persisnya simpang siur. Ada yang menyebut kerumunan manusia itu mencapai 30 ribu orang. Warga yang hampir semua ibu-ibu yang sebagian membawa balita tersebut meluber mulai Gang Pepaya sampai Jalan Wahidin, jalan raya yang menghubungkan Surabaya-Malang dan Probolinggo.

Sekitar pukul 08.00, Syaikhon dan putranya, Vivin, 30, dan Faruq, 28 terlihat sibuk menata pembagian zakat. Keduanya menata pagar untuk jalan akses penerima zakat di dalam musala. Beberapa saat kemudian, terlihat istri Syaikhon, Ny Hanifa, 50. Ia berjalan memakai tongkat sambil dituntun beberapa keluarganya menuju musala.

Mulai sekitar pukul 09.00, pembagian zakat dimulai. Pintu musala sebelah utara akhirnya dibuka panitia. "Masuknya satu satu. Jangan dorong-dorongan," ucap seorang panitia kepada massa yang berkumpul di depan musala. Walau aksi pembagian zakat berada di dalam musala, namun jumlah massa yang berada di luar musala diperkirakan ada sekitar empat ribu orang.

Panitia yang bertugas membagikan zakat membuka pagar yang berukuran dua meter tersebut. Bukaan pintu pagar dibuka hanya cukup untuk satu orang yang masuk ke dalam musala. Panitia pun membatasi orang yang masuk ke dalam musala sebanyak lima orang sampai sepuluh orang. Jika yang di dalam telah menerima dan keluar lewat pintu selatan, barulah panitia membuka pintu pagar depan kembali. Begitu seterusnya.

Bagi orang yang telah menerima zakat sebesar rp 30 ribu, orang tersebut harus diberi sumba (pewarna) yang diletakkan di pintu keluar sebelah Selatan musala. Dua orang panitia zakat bertugas mencelupkan jari tangan massa yang telah mendapatkan uang. Sembari Ny Hanifa membagikan zakat, terlihat H Syaikhon berlalu lalang mengawasi. Sambil mengenakan baju hitam, lelaki tersebut memegang ponselnya. Namun ia lebih sering keluar dari dalam musala melalui pintu keluar.

Memasuki pukul 09.15, hampir sekitar lima puluh orang telah menerima zakat. Usaha mereka berlomba terbilang cukup semangat untuk memasuki pintu masuk musala. Sebab, mereka harus berdesak-desakan dengan sesama penerima. Ada pula massa yang kebingungan dengan anak yang digendongnya. "Mas, tolong anakku bawa ke dalam. Aku nggak kuat," ucap Surti, calon penerima zakat, sambil mendorong ke atas anaknya melalui celah pagar. Tak pelak massa lain yang membawa anaknya ikut meminta tolong para wartawan yang meliput dari dalam musala.

Lama-kelamaan pun aksi dorong massa semakin brutal. Mereka ingin cepat-cepat mendapatkan santunan zakat. Hingga akhirnya barisan depan yang berada di pintu musala semakin terhimpit. Ada yang menjerit kesakitan dan banyak juga yang menangis histeris. "Mas..mas mbokku (ibuku) pingsan!" teriak salah satu dari mereka.

Tak pelak para panitia turun menolong massa yang pingsan tersebut. Terlihat pula putra Syaikhon, Faruq, turun langsung di tengah kerumunan massa untuk membawa beberapa orang yang mulai jatuh pingsan. Panitia yang lain sibuk menyiram air dari selang kran musala untuk membuyarkan massa yang menumpuk. Awalnya pertolongan dari pantia memang efektif. Siraman air dari panitia bisa sedikit melonggarkan udara dan hawa panas. Banyak dari mereka yang memanfaakan siraman air tersebut untuk minum.

Namun, sekitar pukul 09.30 aksi dorong-dorongan massa semakin hebat. Banyak kumpulan orang yang jatuh tergeletak ke tanah hingga akhirnya terinjak massa yang lain. "Yo'opo iki (bagaimana ini). Jangan dorong-dorongan, kasian yang jatuh," ucap seorang panitia.

Sayang, penertiban panitia tidak membuahkan hasil. Justru massa semakin menjorok ke pintu masuk musala. Suasana kacau. Massa yang berada di pintu depan musala benar-benar terjebak dan terhimpit pagar.

Jeritan-jeritan histeris menyeruak, bercampur aduk dengan suara orang mengaduh-aduh. Mereka yang sadar dalam kondisi bahaya, berusaha menyelamatkan diri. Tapi, itu tidak mudah bagi yang sudah berada di tengah kerumunan. Tarik menarik demi penyelamatan diri terjadi. Ada wanita yang sampai bajunya robek di tengah tarik menarik itu.

Suasana semakin tak terkendali. Beberapa orang yang terjepit, terinjak, kehabisan napas, berjatuhan. Bahkan sebagian dari mereka ada yang terlihat digotong kedalam musala dalam keadaan meninggal dunia. Korban yang meninggal tersebut akhirnya dirujuk ke rumah sakit. Wartawan pun jadi ikut sibuk membantu mengevakuasi korban. Jatuh satu korban jiwa tak membuat kegiatan itu bubar.

Dengan adanya satu korban yang meninggal tidak menurutkan massa memberhentikan aksi dorong-mendorong. Mereka semua justru bingung tidak bisa menemukan jalan keluar karena jalan dari depan gang Pepaya ditutup. Kontan aksi dorong tersebut semakin menambah jumlah korban. Satu per satu pula korban berjatuhan. Para korban tewas di tempat kejadian lalu dikumpulkan begitu saja di jalan gang.

Sampai pukul pukul 10.15, sudah ada enam orang tewas. Itu belum termasuk mereka yang kritis hingga harus dilarikan ke RSUD dr Soedarsono Kota Pasuruan (RSUD Purut) yang berjarak sekitar 500 meter dari lokasi kejadian. Kondisi massa baru dapat dikendalikan ketika petugas Polsek Purworejo dan Polresta Pasuruan datang ke lokasi sekitar pukul 10.55. Sejumlah anggota yang datang dengan mobil patroli langsung mengamankan kerumunan massa. Kerumunan tersebut baru dapat dibubarkan sekitar pukul 11.10.

Bubaran kumpulan massa tersebut tidak serta merta mengatasi masalah. Sebab, ternyata korban meninggal dunia terus bertambah. Petugas pun langsung mengevakuasi para korban baik yang sudah meninggal maupun kritis dengan mobil patroli polisi dan kendaraan ala kadarnya macam pikap bak terbuka.

Sampai tadi malam, korban tewas dipastikan 21 orang dan satu orang kritis. Semua wanita berusia 30-67 tahun. Dua belas orang lainnya masih dirawat intensif di rumah sakit karena menderita sesak napas serta memar-memar.

Kepala Kepolisian Resor Kota Pasuruan Ajun Komisaris Besar Harry Sitompul menyatakan, umumnya korban tewas karena kekurangan oksigen, pingsan, dan terinjak-injak. Hal itu didasarkan pada hasil�pemeriksaan dalam (visum et repertum) terhadap jenazah para korban.

Menurut dia, akibat berdesak-desakan, para korban yang telah kekurangan oksigen jatuh pingsan dan terinjak-injak. Padahal, petugas keamanan dan petugas kesehatan tidak ada di lokasi kejadian, sehingga para korban tidak tertolong.

Sebanyak 21 korban tewas yang telah berhasil diidentifikasi itu sudah diambil keluarganya.�Sembilan korban luka masih dirawat di RSUD dr Soedarsono, Kota Pasuruan.

Terancam Bui Lima Tahun

Meski pembagian zakat sudah sering menelan korban, dengan puncak 21 orang tewas kemarin (15/9), H Syaikhon sebagai pembagi zakat belum ditahan polisi. Polisi hanya memeriksa keluarga kaya itu bersama belasan orang lainnya yang terlibat sebagai panitia pembagian zakat.

Hingga tadi malam sekitar pukul 22.00, dua belas orang masih diperiksa penyidik di Mapolresta Pasuruan. ''Pemeriksaan masih berjalan. Bila terbukti, mereka akan dikenai pasal 359 KUHP tentang kelalaian yang menyebabkan orang meninggal atau luka-luka. Ancaman hukumannya lima tahun penjara,'' tegas Kasatreskrim Polresta Pasuruan AKP Adi Sunarto di sela pemeriksaan.

Panitia penyelenggara pembagian zakat itu, kata dia, sejak awal harus memprediksi bahwa pembagian zakat akan menarik massa yang sangat besar dan berpotensi menimbulkan kericuhan serta keributan. ''Namun, penyelenggara malah tidak berkoordinasi dengan kepolisian,'' ungkapnya.

Dikutip dari : www.jawapos.com

Gagal panen padi super toy


JAKARTA 09 September 2008

Kasus gagal panen padi Super Toy HL-2 di Desa Grabag, Purworejo, berkembang menjadi politis. Istana tidak terima kalau hanya padi yang pernah dipanen Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang diserang. Melalui Menteri Pertanian Anton Apriantono, istana ganti menyerang padi MSP yang pernah dipanen mantan Presiden Megawati Soekarnoputri.

Kemarin SBY menggelar rapat kabinet membahas masalah pertanian, khususnya soal benih dan pupuk. Setelah rapat, Anton memberikan keterangan kepada wartawan. Bukan hanya itu. Menkominfo M. Nuh juga mendapat tugas menggelar konferensi pers di Kantor Kementerian Kominfo dengan tema yang sama.

Menurut Anton, berita tentang Super Toy terlalu dibesar-besarkan. ''Mengapa kalau Super Toy menjadi heboh, kalau MSP tidak diributkan?'' katanya.

MSP adalah varietas padi yang diluncurkan Megawati di Cariu, Bogor, pada 18 Desember 2007. Bibit padi MSP diklaim bisa menghasilkan 12 ton per hektare dan meningkatkan produksi padi hingga 60 persen. MSP sendiri singkatan dari Mari Sejahterakan Petani. Tapi, sering juga disebut padi Megawati Soekarnoputri (MSp).

Benih MSP juga sudah ditanam di Bali, Lampung, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara. Mega melakukan panen perdana padi MSP di Karangasem, Bali, pada Juli 2008, tiga bulan setelah SBY memanen Super Toy.

''MSP juga belum memenuhi syarat sebagai varietas unggul. Sama seperti Super Toy harus disempurnakan dulu, tidak boleh dikomersialkan,'' kata Anton.

Anton juga mengaku telah menegur Badan Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB) terkait lolosnya penanaman bibit padi Super Toy HL-2 dalam skala besar. Menurut Anton, Super Toy yang baru masuk tahap uji coba, seharusnya maksimal ditanam di lahan seluas 10 hektare. Karena produsennya terkait staf khusus presiden Heru Lelono, Super Toy bisa ditanam di lahan seluas 100 hektare.

Menurut Anton, pihak yang paling bersalah adalah perusahaan yang memproduksi Super Toy. Yakni, PT Sarana Harapan Indopangan (SHI). ''PT SHI harus membayar kerugian petani,'' kata menteri dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu.

Secara terpisah, Menkominfo M. Nuh menggelar konferensi pers bersama Dirjen Tanaman Pangan Deptan Sutarto Alimosso dan Kepala Badan Litbang Deptan Gatot Irianto. Menurut Nuh, masalah Super Toy sebenarnya masalah biasa. Hanya, karena tahun ini adalah tahun politik, masalahnya menjadi besar.

''Kalau masalah gagal panen, padi varietas unggul yang sudah tersertifikasi juga bisa mengalami. Jadi, tidak hanya Super Toy yang bisa gagal panen,'' katanya. ''Sebagai tambahan informasi, di Madiun Super Toy berhasil panen di areal 10 hektare dengan hasil 7,4 ton per hektare,'' sambungnya.

Menurut Nuh, risiko sebuah inovasi adalah kegagalan. Peluangnya ada dua, berhasil atau gagal. ''Mengapa presiden mau hadir di panen raya, karena presiden ingin mendorong inovasi dari siapa pun, anak bangsa kita,'' kata mantan rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya itu.

Dirjen Tanaman Pangan Deptan Sutarto Alimosso mengatakan, kalangan petani bisa melakukan uji coba menyilangkan berbagai jenis padi. Ini juga yang terjadi dengan Super Toy. Saat ini, kata Sutarto, Super Toy juga disahkan sebagai varietas unggul. ''Sifatnya memang masih uji coba,'' katanya.

Lalu bagaimana penyelesaiannya? Menurut Sutarto, Deptan tidak akan turun tangan langsung. Sebab, kewenangan menyelesaikan masalah tersebut ada pada kepala daerah. ''Menurut saya, yang paling tepat adalah PT SHI bertemu petani dan bupati menjadi wasitnya,'' kata Sutarto.

SBY Pertahankan Heru Lelono

Dua kali membuat malu SBY, tidak membuat staf khusus bidang otonomi dan pemerintah daerah Heru Lelono kehilangan jabatan. SBY tetap mempertahankan mantan kader PDIP yang pernah menjadi anggota tim suksesnya itu sebagai perangkat presiden.

Juru Bicara Kepresidenan Andi Mallarangeng mengatakan, presiden belum pernah menyinggung untuk mencopot jabatan Heru Lelono. ''Nggak ada wacana pencopotan,'' kata Andi.

Masalah Super Toy, kata Andi, menjadi tanggung jawab PT SHI dan penemunya. Yang dilakukan SBY, kata Andi, hanyalah mendorong setiap anak bangsa yang ingin berinovasi. ''Biar mereka yang menyelesaikan. Yang penting petani tidak dirugikan,'' katanya.

Seperti diketahui, ratusan petani di Desa Grabag, Purworejo, protes karena padi Super Toy produksi PT SHI gagal panen. Padahal, padi itu dijanjikan bisa dipanen tiga kali hanya dengan sekali tanam.

Saat panen pertama, SBY datang. Hasilnya saat itu memuaskan. Nah, saat panen kedua inilah ternyata tanaman padinya kopong atau tidak berisi. Para petani pun menuntut ganti rugi kepada PT SHI.

Celakanya, PT SHI masih terkait dengan istana. Sebab, komisarisnya adalah Heru Lelono, staf khusus presiden bidang otonomi dan pemerintah daerah. Heru menjadi komisaris utama PT Sarana Harapan Indogrup (SHI) yang membawahi tiga perusahaan, yaitu PT Sarana Harapan Indohidro, PT Sarana Harapan Indopangan, dan PT Sarana Harapan Indopower.

Sebelum kasus Super Toy, Heru sempat membuat malu presiden karena kasus blue energy yang melibatkan ilmuwan Djoko Suprapto, yang juga peneliti di PT Sarana Harapan Indopower.

Dikutip dari : www.jawapos.com