Kamis, 23 Oktober 2008
Believe if Alien is coming
Someday I think if aliens is real but someday I think too if aliens it just my imagination. But I ever watching a science program in the television the name of this program is “National Geographic” that discuses about aliens.
In this program I see some people who ever meet with aliens. They say if aliens come when their sleep, also other people say if they see UFO “the vehicle that used aliens to come to the earth”. I dont know it is a real story or not, but be a confession from Phil Schneider a civil engineer who claim if he see a aliens when he work in the forest. He see a shine like a UFO come in the forest exactly in the hill near a forest place his work. But when he near a source of a shine he not see and find anything.
But Trully I believe if aliens is real not just my imagination, cause some scientis say if aliens maybe real cause in this galaxy anything its possible, like a aliens. So maybe in the entire world be a human like you that we give the name “aliens”.
Beside it, some scientist also say if aliens come to the earth with a good and modern vehicle. They are present like a time room or a other galaxy so they can easy and quick to come an out to the earth. So maybe aliens more clever than human??##
But if aliens is real why aliens come to the earth. The planet that maybe not match with the atmosphere like in the place aliens’s live??
I dont know. But if aliens is (real?? real?? and real??), I hope they come to the earth with a good intention. Amin...
Senin, 22 September 2008
effect of global warming

Global warming is the term used to describe a gradual increase in the average temperature of the Earth's atmosphere and its oceans, a change that is believed to be permanently changing the Earth’s climate forever.
While many view the effects of global warming to be more substantial and more rapidly occurring than others do, the scientific consensus on climatic changes related to global warming is that the average temperature of the Earth has risen between 0.4 and 0.8 °C over the past 100 years. The increased volumes of carbon dioxide and other greenhouse gases released by the burning of fossil fuels, land clearing, agriculture, and other human activities, are believed to be the primary sources of the global warming that has occurred over the past 50 years.
Scientists from the Intergovernmental Panel on Climate carrying out global warming research have recently predicted that average global temperatures could increase between 1.4 and 5.8 °C by the year 2100. Changes resulting from global warming may include rising sea levels due to the melting of the polar ice caps, as well as an increase in occurrence and severity of storms and other severe weather events.
Bantuan Langsung Tunai (BLT) di Indonesia
Bantuan yang diberikan oleh pemerintah sebagai kompensasi dari kenaikan BBM atau yang kita kenal dengan BLT, seperti kita ketahui banyak menimbulkan pro dan kontra.
Mulai dari adanya penyelewengan kartu kompensasi BLT, klasifikasi warga penerima BLT, waktu pembagian BLT, distribusi dana BLT dari Kantor Pos Pusat ke Kantor Pos Daerah yang macet dan lain sebagainya, ini semua merupakan indikasi BLT tidak berjalan optimal.
Back to basic, sebenarnya syarat-syarat warga penerima BLT itu kaya gimana?, sampai-sampai ada keluarga miskin “gakin” yang protes karena tidak menerima BLT.
So, ni jawabannya :
1. Luas lantai bangunan tempat tinggal kurang dari 8 meter persegi untuk masing-masing anggota keluarga.
2. Jenis lantai tempat tinggal bangunan, terbuat dari tanah, bambu, kayu berkualitas rendah.
3. Jenis dinding bangunan tempat tinggal terbuat dari ambu, rumbia, kayu berkualitas rendah.
4. Fasilitas jamban tidak ada, atau ada tetapi dimiliki secara bersama-sama dengan keluarga lain.
5. Sumber air untuk minum atau memasak berasal dari sumur atau mata air tak terlindung, air sungai, danau atau air hujan.
6. Sumber penerangan dirumah bukan listrik.
7. Bahan bakar yang digunakan memasak berasal dari kayu bakar, arang, atau minyak tanah.
8. Dalam seminggu tidak pernah mengonsumsi daging, susu atau hanya sekali dalam seminggu.
9. Dalam setahun paling tidak hanya mampu membeli pakaian baru satu stel.
10. Tidak mampu membayar anggota keluarga berobat ke puskesmas atau poliklinik.
11. Pekerjaan utama kepala keluarga adalah petani dengan luas lahan setengah hektar, buruh tani, tukang batu, tukang becak, pemulung, atau pekerja informal lainnya dengan pendapatan maksimal Rp.600.000,- per bulan.
12.Pendidikan tertinggi kepala keluarga tidak lebih dari SD.
13. Tidak memiliki harta senilai Rp.500.000,- seperti tabungan, perhiasan emas, TV berwarna, ternak, sepeda motor (kredit / non-kredit), tanah, atau barang modal lainnya.
14. Makan dalam sehari hanya satu kali atau dua kali.
Tapi ya tetep aja syarat ada, penyelewengan juga ada. Tapi sebenarnya BLT ini seimbang gak dengan dampak kenaikan BBM?. Kalau dipikir ulang, Rp.100.000,- untuk satu bulan memangnya cukup untuk biaya hidup??.
Bukannya kenapa-napa, tapi menurut wit Rp.100.000,- gak bakalan cukup untuk biaya hidup satu bulan. Susah sih ngomongnya, mungkin BLT bukan solusi tepat dari dampak kenaikan BBM untuk gakin. Justru ini membuat mereka jadi “maaf” pengemis yang selalu menunggu uluran dana BLT dari Pemerintah. Dani ini memicu pelumpuhan potensi SDM dalam masyarakat dan membuat masyarakat malas bekerja. Jadi bukannya berusaha keluar dari jerat kemiskinan, tapi ini membuat masyarakat lebih terperangkap dalam jerat kemiskinan.
Cari solusi lain juga susah, misalnya dengan diberikannya kesempatan kerja seluas-luasnya kepada masyarakat, atau dengan membudidayakan KUR “Kredit Usaha Rakyat” yang sedang marak belakangan ini. Dua solusi tadi juga mungkin bukan solusi yang tepat untuk kompensasi BBM, karena tidak akan mampu menyerap semua gakin. Ya seperti kita tahu, SDM negeri ini lebih banyak yang “low quality” ketimbang “high quality”, pendidikan masyarakat pun masih rendah, sehingga untuk menjalankan KUR atau bekerja bukan menjadi hal yang mudah.
Jadi apa yang gampang ya???
Trus sektor mana yang harus dibenahi terlebih dahulu oleh negeri ini, supaya semua warga Indonesia dapat terbebas dari jerat kemiskinan???
Rabu, 17 September 2008
Batik Indonesia To Batik Cina
Indonesia???
Kasihan banget deh negara ini.Waktu itu ada masalah dengan dipatenkannya batik di Malaysia. Eh sekarang muncul masalah lain. Indonesia yang sekarang sedang membudayakan batik diserang batik buatan Cina. Apalagi harga batik Cina itu lebih murah daripada batik karya anak negeri sendiri.
Nah, dampak dari batik Cina itu pun sekarang mulai terlihat. Batik – batik Cina yang memiliki motif yang tidak kalah menarik dengan batik Indonesia itu laris manis di pasaran Indonesia. Para konsumen lebih tertarik dengan batik buatan Cina tersebut. Di samping motifnya yang tidak kalah menarik, harga yang ditawarkan juga miring.
Di sisi lain, produsen batik lokal mulai resah dengan batik Cina tersebut. Gimana ga resah.. secara pasti omset penjualan batik Indonesia jatuh seiring datangnya batik-batik Cina tadi.
Padahal saat ini batik mulai digemari oleh masyarakat Indonesia. Dari orang kecil sampai pejabat negara sekarang mulai gemar menggunakan batik. Sungguh ironis bukan? Di saat batik Indonesia mulai berkembang kembali malah ada ancaman kembali dari negeri luar. Yang membuat lebih ironis lagi, masyarakat lebih menyukai produk buatan luar negeri itu.
Tapi belum lama ini diduga bahwa batik Cina yang harganya miring itu adalah ilegal. Diperkirakan batik – batik itu masuk Indonesia tanpa melalui kepabeaan sehingga terhindar dari kewajiban membayar pajak. Itulah yang menyebabkan harga batik – batik Cina lebih miring. Dan hal itu sekarang sedang diselidiki lebih lanjut oleh Departemen Perdagangan.
Semoga permasalahan itu cepat terselesaikan. Supaya nanti batik Indonesia dapat berkembang lagi.
Dan kita sebagai warga Indonesia sebaiknya juga ikut memerangi hal tersebut. Mari kita belajar untuk dapat membedakan mana batik produk dalam negeri dan produk luar negeri sehingga kita tidak salah membeli dengan produk luar negeri saat membeli. Dan pastinya....
CINTAI PRODUK DALAM NEGERI YA!!!
Petir-petir pencabut nyawa
Kedengarannya memang ironis. Walau sebentar lagi umat manusia akan memasuki era millennium ketiga yang amat sarat dengan teknologi dan kebudayaan tinggi, masih saja ada tragedi yang mengingatkan kita pada zaman para dewa. Dahulu kala, menurut legenda Yunani, konon Bumi ini dikuasai sejumlah dewa, di antaranya adalah Zeus, Dewa Petir. Ia bisa menghukum siapa saja dengan petir yang bisa dilecut dari tangannya. Tiada ampun bagi korbannya. Begitulah legenda. Namun lepas dari semua itu, kasus orang tersambar petir ternyata masih terjadi pada masa yang telah begitu moderen ini. Terlebih naif sendiri, setelah lebih dari empat abad Benjamin Franklin menaklukkan petir dengan layang-layang yang digantungi kunci itu. Dalam hal ini, para pembaca budiman mungkin masih ingat dengan musibah yang dialami seorang pejabat di Batam beberapa tahun lalu ketika sedang mengayunkan stick golf-nya. Tanpa dinyana ia langsung roboh setelah sebuah petir menyambarnya.
Selain itu, tentunya masih segar dalam ingatan kita betapa menyedihkan nasib tiga dari delapan anak dari Kampung Parigi, Kecamatan Pondok Aren, Tangerang, Jawa Barat, yang pada suatu sore (9/10) tengah bermain di sebuah persawahan. Mereka tewas seketika dengan tubuh hangus, juga akibat sambaran petir. Sore itu, seperti biasa mereka berhamburan meneduh ke sebuah gubuk yang ada di tengah persawahan begitu hujan tiba-tiba turun. Mereka pun tak pernah menaruh syak wasangka ketika petir mulai menyambar-nyambar, hingga suatu ketika sebuah diantaranya 'terkirim' tepat mengenai gubuk tempat mereka meneduh. Rohmin, Uslani, dan Solihin langsung terjungkal tewas dengan tubuh hangus terbakar. (Kompas, 12/10)
Di rumah sakit Ashobirin, selagi masih dirawat akibat shock, Usriandi kakak Uslani yang sama-sama ikut berteduh di gubuk nahas itu, menceritakan kegetiran yang terjadi. "Ketika itu hujan memang deras. Tiba-tiba saja petir menyambar dan saya segera tak sadarkan diri."
Umumnya petir-petir pencabut nyawa ini memang mengincar korban yang tengah 'bercanda' di wilayah datar yang terbuka. Di negara yang sudah terbilang maju sekalipun, seperti di Inggris, kasus petir makan korban juga masih terjadi. Salah satu kasus terjadi pada 14 September beberapa tahun lalu. Ketika itu seorang pria dewasa yang tengah melintas Taman Finsbury, London, tiba-tiba terpental ketika sebuah petir menyambarnya. Seperti juga korban lainnya, ia tewas seketika dengan tubuh terbakar.
Terdorong rasa ingin tahu yang mendalam, seorang fisikawan lalu melakukan penelitian terhadap tubuh korban. Menurut pengamatannya, pola lintasan arus listrik yang begitu tinggi dari sang petir nampak mengikuti jalur pembuluh darah vena. "Lintasannya mulai dari leher atas bahu sebelah kanan lalu melintas dada hingga rongga perut depan bagian bawah. Pola yang terjadi memang tak selalu demikian, namun nampaknya listrik petir mencari bagian tubuh yang memiliki resistensi rendah," ujarnya.
1.000.000 volt
Menurut batasan fisika, petir adalah lompatan bunga api raksasa antara dua massa dengan medan listrik berbeda. Prinsip dasarnya kira-kira sama dengan lompatan api pada busi. Di alam sekitar kita, petir biasa terjadi pada awan yang tengah membesar menuju awan badai (Cumulonimbus). Sedemikian raksasanya sampai-sampai ketika petir itu melesat, tubuh awan akan terang dibuatnya. Dan, sebagai akibat udara yang terbelah, sambarannya yang rata-rata memiliki kecepatan 150.000 km/detik itu juga akan menimbulkan bunyi yang menggelegar bunyi yang kemudian biasa kita sebut: geluduk, guntur, atau halilintar. Dalam musim penghujan seperti saat inilah awan-awan jenis ini banyak terbentuk.
Di lain kesempatan, ketika akumulasi muatan listrik dalam awan tersebut telah membesar dan stabil, lompatan listrik (eletric discharge) yang terjadi pun akan merambah massa bermedan listrik lainnya, dalam hal ini adalah Bumi. Penghubung yang 'digemari', merujuk Hukum Faraday, tak lain adalah bangunan, pohon, atau tiang-tiang metal berujung lancip.
Memang belum pernah ada ilmuwan yang pernah menekuni langsung bagaimana terjadinya fenomena alam ini. Namun, mereka menduga hingga lompatan bunga api listriknya sendiri terjadi, ada beberapa tahapan yang biasanya dilalui. Pertama adalah pemampatan muatan listrik pada awan bersangkutan. Umumnya, akan menumpuk di bagian paling atas awan adalah listrik muatan negatif; di bagian tengah adalah listrik bermuatan positif; sementara di bagian dasar adalah muatan negatif yang berbaur dengan muatan positif. Pada bagian bawah inilah petir biasa berlontaran.
Besar medan listrik minimal yang memungkinkan terpicunya petir ini adalah sekitar 1.000.000 volt per meter. Bayangkan betapa mengerikannya jika lompatan bunga api ini mengenai tubuh makhluk hidup!
Akibat kondisi tertentu, Bumi yang cenderung menjadi peredam listrik statis, bisa pula ikut berinteraksi. Hal ini dimungkinkan jika pada suatu luasan tertentu terjadi pengkonsentrasian listrik bermuatan positif. Apakah itu di bawah bangunan atau pohon. Ketika beda muatan antara dasar awan dengan ujung bangunan/pohon sudah mencapai batas tertentu, akan menjadi suatu kejadian lumrah jika kemudian terjadi perpindahan listrik. Maka secara fisik kita akan melihatnya sebagai petir menyambar bangunan atau pohon. Muatan yang begitu besar selanjutnya akan segera menyebar ke seluruh bagian bangunan/pohon, untuk kemudian menjalar ke tanah dan ternetralisasi pada kedalaman yang mengandung air tanah.
Kondisi seperti itu sudah pasti amat berbahaya bagi orang-orang yang ada di sekitarnya. Jika sambarannya tak terlampau kuat, korbannya paling hanya mengalami cidera dan/atau shock. Namun jika serangannya kuat, seperti dialami tiga orang anak dari Kampung Parigi itu, korbannya akan tewas seketika karena selain terbakar ia akan menjadi 'penghantar' listrik yang besarnya mencapai ribuan volt.
Kemajuan teknologi sebenarnya telah memungkinkan cara-cara pengendalian arus listrik yang begitu besar dari langit itu. Yakni, dengan penangkal petir dimana arus listrik yang begitu besar ditangkap sebuah atau sejumlah pucuk tembaga runcing lalu dialirkan lewat 'jalan tol' berupa kawat tembaga yang terpasang di sisi bangunan dan langsung dibawa menuju air tanah.
Menurut penelitian, daerah serbuan petir sendiri tak selamanya merupakan daerah yang dinaungi awan-awan besar. Sejumlah kasus menunjukkan bahwa suatu daerah pernah mendapat sambaran petir hebat meski langit di atasnya bersih dari awan. Contoh paling ekstrim yang pernah dicatat terjadi di Hereford, Inggris. Suatu ketika sebuah petir kuat menyerbu sebuah gedung setelah petir ini menempuh perjalanan sekitar lima mil dari 'pusatnya'. Dari kejauhan sejumlah saksi melihatnya sebagai pemandangan yang begitu indah sekaligus mengerikan. (Handbook of Unusual Natural Phenomena, 1986).
Itu sebabnya di musim hujan kita lebih baik tak usah bermain-main di wilayah terbuka atau bernaung di bawah pohon pada saat hujan. Ini semata-mata untuk menghindar dari kemungkinan yang tak diinginkan. Sebab, kita tak pernah bisa menduga apakah tanah yang sedang kita pijak telah berpotensi menjadi penarik petir atau tidak.
Dikutip dari : www.angkasa-online.com
.jpg)

